GUW9BUMoGfCiGfd6TfOpTUziTY==

Agung Putra Mulyana: Fenomena #KaburAjaDulu, Medan Perjuangan Opini Publik Yang Tidak Bisa Diabaikan di Era Digital

Agung Putra Mulyana saat berkunjung di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia. (Foto: Dok/Ist).

Portal Demokrasi, Jakarta - Fenomena viral hashtag #KaburAjaDulu di media sosial menjadi sorotan dalam beberapa pekan terakhir. Dengan lebih dari 70,6 ribu unggahan di Instagram, tagar ini bukan sekadar tren digital, tetapi juga refleksi dari keresahan sosial yang dirasakan oleh masyarakat, terutama generasi muda.

Menurut Agung Putra Mulyana, Peneliti Komunikasi Media Digital & Pengamat Interaksi Media Sosial yang sedang menempuh studi Doktoral Jurusan Social Science dengan fokus riset Komunikasi Digital di Asia E University, Malaysia, fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial telah menjadi arena utama dalam membangun wacana publik dan membentuk persepsi kolektif.

"Hashtag #KaburAjaDulu bukan sekadar ekspresi individual, tetapi telah berkembang menjadi gerakan digital yang mencerminkan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial-ekonomi di Indonesia. Dalam konteks komunikasi digital, ini menunjukkan bagaimana masyarakat menggunakan platform daring untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan bahkan membangun solidaritas," ujar Agung.

Beberapa unggahan yang mendapat perhatian besar di antaranya berasal dari akun satitiheni, yang menyoroti ketimpangan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, serta akun irwanprasetiyo, yang menampilkan kisah lulusan cumlaude UGM yang memilih bekerja sebagai cleaning service di Australia karena gaji yang lebih tinggi. Interaksi tinggi dalam unggahan-unggahan ini menegaskan bahwa isu migrasi tenaga kerja dan ketidakpuasan terhadap sistem menjadi faktor utama yang mendorong popularitas hashtag ini.

Dari perspektif teori komunikasi digital, Agung menjelaskan bahwa tagar ini berfungsi sebagai alat untuk membangun narasi kolektif. Sarkasme dan humor yang banyak digunakan dalam unggahan juga menunjukkan bahwa generasi digital cenderung menyampaikan kritik dengan pendekatan ringan tetapi tetap bermakna.

"Kita melihat adanya penggunaan meme dan kritik humoristik dalam diskusi digital ini. Ini adalah bentuk komunikasi khas era digital, di mana humor menjadi strategi untuk menyampaikan ketidakpuasan tanpa terkesan terlalu frontal," tambahnya.

Namun, Agung juga menyoroti potensi dampak negatif dari tren ini. Jika hanya menjadi ajakan untuk meninggalkan negeri tanpa ada upaya untuk memperbaiki keadaan, maka fenomena ini bisa memperkuat sikap apatis. Sebaliknya, jika digunakan sebagai momentum untuk mendorong perubahan kebijakan dan membuka diskusi lebih luas, maka #KaburAjaDulu dapat menjadi katalis bagi transformasi sosial yang lebih besar.

"Pemerintah dan pemangku kepentingan harus melihat fenomena ini sebagai alarm sosial. Jika semakin banyak anak muda yang merasa bahwa satu-satunya solusi adalah 'kabur', maka ada masalah struktural yang perlu segera diperbaiki. Media sosial kini bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga medan perjuangan opini publik yang tidak bisa diabaikan," tutup Agung.

Jasa ISBN

Type above and press Enter to search.